Friday, 2 March 2012

Sawarna, Keindahan tersembunyi dengan segala pesonanya

Halooo, welcome myblog setelah hampir 2 bulan blog ini terbengkalai karena berbagai macam alasan untuk tidak dapat menyentuh blog ini akhirnya tersentuh juga. Kali ini saya akan sedikit menulis perjalanan liburan singkat saya ke daerah Banten dan Pelabuhan Ratu. Yoook mari disimaaak gan broh sist mbaknyaa, hasil persentuhan jari dan tombol keyboard di sore menjelang senja.

I have had a holiday, and I'd like to take it up professionally.
Kylie Minogue

Perjalanan Pantai Sawarna dan Pantai Bayah

Mentari pagi mulai keluar dari balik persembunyiannya. Indah dan begitu menawan hati, apalagi saat saya melihatnya dari atas bukit dengan hamparan luas pepohonan jati. Liburan singkat ini, saya habiskan bersama beberapa teman karib sejak SMA. Kali ini saya mengusulkan ide untuk mencoba mengeksplorasi keindahan "Sawarna" yang menurut penuturan para backpacker ialah sebuah pantai yang benar-benar surga tersembunyi. 
Kami menginap dirumah salah seorang teman yang terletak di Pelabuhan Ratu, Desa Batu Sapi. Untuk mencapai Sawarna memerlukan waktu sekitar 2-3 jam dari pelabuhan Ratu. Pada Juli, tahun lalu kami sempat datang ke Pantai Bayah yang letaknya tidak jauh dari Sawarna namun belum sempat menuju Sawarna karena keterbatasan waktu. Oiya, bila kita sudah mencapai satu spot yang tinggi ditengah-tengah perbatasan pelabuhan ratu dan banten, diatas bukit maka kita akan bisa melihat secara keseluruhan pelabuhan ratu dan banten yang dikelilingi oleh laut. Begitu indah dan membuat saya berdecak kagum dan mengucap syukur "Tuhan betapa indah ciptaanmu...". Dan kali kami memutuskan untuk menuju sawarna dengan perbekalan dari rumah dan modal berani tanya. Kesiapan mental dan perut akan teruji nih! Pikir saya dalam hati. Untuk mencapai sawarna kami harus melewati perjalanan jauh yang berkelok-kelok serta naik turun. Terlempar-lempar karena jalan-jalan berlubang, melewati hutan-hutan dikanan-kiri jalan. Perjalanan dari Pelabuhan Ratu menuju Banten ditempuh dalam waktu 1,5 sampai 2 jam. Setelah 2 jam perjalanan saya sampai di Desa Bayah, karena tidak tahu pasti dimana letak Sawarna akhirnya kami memutuskan untuk bertanya di sebuah tempat tambal ban. Setelah bertanya tukang tambal ban tad berkata "Sawarna yaa neng, nggak jauh kok dari sini.." Sepertinya memang kalau orang daerah bilang tidak jauh itu sama dengan 5x lipatnya perjalanan kita. Yaa kami sudah melewati hutan dan jalanan yang berlubang berakli-kali menyetop motor-motor penduduk yang lewat mereka bilang "1KM lagi neng ...". Woow sudah lebih dari 4Km kami menyusuri perjalanan namun tidak melihat tanda-tanda pantai sama sekali. Dan akhirnya sudah sekitar 6Km perjalanan dan sebuah turunan terjal barulah terlihat keindahan lautnya dari jauh. Wooww astagaaaaaa indah sekali terlihat dari jauh hamparan luas lautan biru. Gradasi warna biru terlihat jelas oleh mata. Dibalik bukit dan pepohonan terlihat keindahan yang tersembunyi. Perjalanan naik turun yang curam dam terjal sempat menyurutkan semangat kami untuk mencapai sawarna. Dan akhirnya kami tiba di desa Sawarna, lebak Banten. Namun disitu saya bersama teman-teman sepermainan belum juga mememui pintu masuk ke Sawarna tersebut. Akhirnya kami memutuskan kembali untuk bertanya pada penduduk desa. Kemudian penduduk menunjukkan arah dimana kami bisa masuk ke arah Pantai Sawarna tersebut. Iya, setelah perjalanan selamat 10 menit akhirnya saya melihat jajaran mobil pariwisata dan berbagai jenis kendaran lainnya yang terparkir dideoan jalan masuk desa. WOOOWWWWW! Ternyata lumayan banyak orang yang berkunjung ke sawarna dan yang membuat saya takjub tak hanya plat A,F,B atau D terparkir di Jalan masuk desa. Melainkan berbagai plat luar pulau jawa pun banyak menghiasi jalan masuk desa.

Waktu telah menunjukkan pukul 2 siang, untuk menuju pantai kami kembali harus menempuh perjalanan 1,5km lagi untuk mencapai pantainya. Karena pantai terletak di balik desa. Kami harus menyebrangi jembatan gantung dan melewati desa penduduk untuk sampai ke mulut pantai. Perjalanan 1,5km bukanlah jarak dekat untuk menghemat waktu akhirnya kami memutuskan untuk menaiki ojek yang memang tersedia untuk para wisatawan yang enggan untuk berjalan kaki. Ongkos ojek yang ditawarkan sebesar 20rb rupiah untuk antar jemput. Saya bersama teman saya kemudian menaiki ojek tersebut. Rasa ketakutan menghinggapi ketika harus melewati jembatan gantung tersebut dengan menggunakan sepeda motor. Jembatan tersebut tidak terlihat cukup kuat itukah yang membuat saya takut, namun abang ojek meyakinkan bahwa jembatan ini memang kuat dan sebagai satu-satunya sarana penghubung untuk masuk kedalam desa. Saat melewati jembatan mulut saya bergumam sambil membaca ayat kursi kalau-kalu ada hal yang tidak enak yang terjadi. Satu trek terberat telah terlewati akhirnya kami masuk kedalam desa dan melewati jalan-jalan dan gang kecil yang berkelok atau lebih biasa kita sebut jalan kampung karena letaknya berada setelah perkampungan kecil penduduk dan kembali melewati rerumputan liar di kebun yang belum dirapihkan penduduk. Voila, setelah  sepuluh menit kami sampai di hamparan luas laut sudah berada didepan kami, 2 buah karang yang sangaaaat besar terpampang di depan kami debur ombak yang cukup besar dan bertambarakan dengan karang-karang yang ada seperti nyanyian menyambut kami. Saya pun segera berlari untuk menyapa teriknya matahari dan indahnya pantai Sawarna ini. Tuhan betapa indahnya ciptaanMu. Tiada kata yang dapat menggambarkan kuasamu ini. 

Pantai yang begitu bersih dan begitu indah membuat saya takjub. Airnya begitu bening hingga saya dapat melihat ke dasar-dasar karang yang tergenang olehair. Di genangan-genangan tersebut saya dapat melihat dengan jelas ikan-ikan kecil yang berenang meleawti jari-jari dan telapak kai saya. Sungguh indah, saya pun dapat melihat bintang laut yang sedang berkumpul di karang yang tergenang air. Untuk pertama kalinya saya dapat melihat dengan jelas bulu binatang yang disebut bintang laut dan bulu babi dari jarak yang amat sangat dekat dan jelas, Mungkin sekumpulan bintang laut tersebut sedang berjemur dibawah teriknya matahari. Bintang laut ternyata bukan seperti yang digambarkan di film spongebob, makhluk berwarna pink yang gemuk. Sebagai kenang-kenangan saya mengambil beberapa foto bintang laut tersebut. 


Note : Pantai Sawarna ini termasuk kedalam kategori pantai selatan, dan baru ditemukan dua tahun lalu oleh seorang berkebangsaan Asing. Keunikan lain yang saya temui, rumah penduduk kampung tersebut banyak disewakan untuk penginapan baik turis lokal maupun macanegara. Turis mancanegara biasanya ramai di bulan Maret dan Juli. Biasanya mereka bisa menetap sampai berbualn-bulan. Untuk meneyewa penginapan ataupun rumah penduduk dikenai biayai RP 100.000- RP 120.000/hari untuk satu orang dan disediakan makan sebanyak 3 kali. Saat saya melewati perkampungan tersebut banyak turis yang tinggal dirumah penduduk dan mereka berbaur bersama penduduk lain kampung tersebut. Di sore hari biasanya para turis asing setelah selesai melakukan surfing, maka mereka akan duduk-duduk di teras dan dipan rumah untuk sekedar bersantai mengopi atau bersenda gurau dengan penduduk kampung tersebut.


Setelah puas menikmati keindahan pantai Sawarna dan beragam eksotisme, akhirnya kami memutuskan untuk menikmati sunset di pantai Bayah. Akhirnya kami bertolak kembali menuju pantai bayah. Sore hari di pantai bayah terlihat banyak Orang lelaki penduduk bayah menghabiskan sore dengan memancing. Akhirnya saya berlari untuk menghampiri salah seorang bapak yang sedang memancing untuk sekadar mengobrol dan berbincang-bincang. Ternyata karena jauh dari jangkauan kendaraan untuk menuju kota dan susahnya signal televisi atau radio, memancing adalah satu-satunya hiburan untuk menghilangkan kebosanan dan kepenatan.

Beberapa bapak-bapak yang menghabiskan sore untuk meng hilangkan kepenatan  setelah seharian bekerja dengan memancing.

Willy bocah dari desa bayah yang sedang bermain dan berenang di pantai. Bocah ini walaupun berbadan kecil ternyata ia bersekolah kelas 5 SD. Untuk mencapai solahnya dibutuhkan waktu 1 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor diantar oleh wak'nya (kakak dr orgtua willy) bocah yang satu ini jago berpantun dan membuat saya dan teman-teman tertawa terbahak-bahak

seorang bapak yang saya hampiri saat memancing untuk berbincang-bincang sambil menunggu sunset tiba. Bapak ini ternyata pernah bekerja di Jakarta sebagai penjaga keamanan di Rumah Sakit Puri Cinere. Woow sangat jauh dari desa Asalnya. Dan dengan kebaikan hatinya ia memperbolehkan saya mengobrak-abrik isi tasnya yang berisi ikan-ikan hasil pancingannya,
Untuk pertama kalinya saya berhasil memegang ikan dan menghilangkan phobia terhadap binatang yang satu ini.


Tanaman laut yang saya temukan di dasar karang. Sangat lucu bentuknya seperti anggur dan beli kita memencetnya maka akan menyemprotkan air.


Akhirnya sunsetpun tiba. Indahnya menatap matahari tenggelam dan mulai bersembunyi di balik mega menutup perjalanan panjang saya menuju sawarna. Walaupun perjalanan begitu berat dan suit semuanya terbayarkan oleh keindahan yang tidak dapat saya lukiskan bagaimana luapan perasaan saya melihat pesona dari Sang Maha Kuasa. Semoga saya dapat berkunjung kembali ke Desa yang begitu unik dan indah ini.

"Like all great travelers, I have seen more than I remember, and remember more than I have seen." – Benjamin Disraeli 





No comments:

Post a Comment